Dua Jam di Kantor Pos Besar

Serius, saya menghabiskan waktu 2 jam di Kantor Pos Besar (dekat Istiqlal/Katedral). Tujuannya, untuk mencari paket parfum yang (katanya) dikirim tanggal 26 Nov oleh salah satu online seller dari New York. Halah, belum sampai hingga sekarang. Si seller yg tidak bertanggung jawab meminta sabar. But, it's been more than a month. Anyway, that's another story.

Jadilah saya kemarin ke Kantor Pos Besar, dan parkir di lapangan tanpa karcis Sunparking karena salah belok. Belakangan baru tahu, bahwa itu tempat parkir pegawai/direktur Kantor Pos. Ups, maap ya, Pak.

Setelah nanya ke 'satpam' yang ternyata sebenarnya adalah polisi (ya eya lah, lagi-lagi nanya ke kantor pejabat pos, pantas kok bagus kantornya, xixixixixi), saya belok kanan ke Auditorium di Lantai 2. Wah, ternyata agak rapi ya, ada tempat minum dan kios Citibank Financial (lengkap dengan Mas Advisor yg ehm, ehm).

Intinya, selama 2 jam, saya tur di Kantor Pos Besar:
  • di Lantai 2 (Auditorium/Loket) : nanya paket saya dari NY ada ga? Kata petugas loket 'Customs', coba turun ke lantai 1 lewat lift. Okah, dengan dikasih petunjuk lengkap dari seorang petugas pos, saya naik lift kriat-kriut :'-(
  • di Lantai 1 (Ekspedisi) : ooh, ternyata ini ya bagian pengantaran Pos. Kepada seorang Bapak yg mengetik resi pengiriman di depan kompi Dell hitam, daku bertanya keberadaan paketku ituh. Wah, ternyata doi ga tau klo ga ada tracking number di USPS secara database di kompi itu hanya mengguunakan tracking number sebagai search-key. Yah, padahal paket ituh hanya paket pos biasa (dasar seller pelit!) karena memanfaatkan Free Shipping Promo. Sang Bapak memohon (bener, tampangnya memelas kecapean) agar pergi ke lantai 3.
  • di Lantai 3 (Gudang Paket Pos Tercatat): setelah bertanya, para petugas Pos dengan ramah membantu mencarikan catatan paket saya di delivery-logbook berupa buku folio bergaris dengan tulisan bolpen hitam berisi tanggal pengiriman, nomor, nama, ttd. Halah... Karena agak lelet, saya berinisiatif mengambil alih tugas tersebut dan menyesal kemudian. Wadu, mata gw bengkak deh ngeliat buku folio dengan tulisan tangan yg susah dibaca begitu. Mbok ya klo nulis pake Font Arial 12pt, Pak. Setelah 7 lembar bolak balik, ternyata ga ketemu nama saya. Trus, saya diantar seorang Bapak ke Lantai 6.
  • di Lantai 6 (Inquiry): saya bahagia melihat kantor ini, karena looks modern, lengkap dengan kursi tamu di meja paling depan, iseng ngelirik, ada kompi Dell hitam yang menampilkan layar Excel spreadsheet berisi data pengiriman customer. Pas ditanya, Bapak langsung bilang,"wah susah carinya klo ga ada tracking number. Tolong bantu saya agar saya bisa bantu Mbak, dikasih info tracking number-nya." Sumprit deh, Pak, ga ada dari sononya! Akhirnya doi memanggil seorang Mbak untuk membantu mencari. Pas si Mbak pergi ke balik rak besar, daku dah seneng, dikira akan dicari lewat kompi tersembunyi. Ndilalah, si Mbak kembali dengan 3 bundel resi tanda terima warna putih bln Nov/Dec. Dan, si Bapak dan si Mbak mencari atu-atu dari tumpukan resi tersebut! Tyus, tuh kompi buat apa duonk? Tapi, hebatnya, nama saya ditemukan loh :-)
  • di Lantai 1 (Ekspedisi) lagi: saya dan si Mbak kembali ke sini dan masuk lebih dalam ke bagian rak-rak pengiriman. Sibuk sekali bagian inih. Dan saya ketemu Bapak Pos langgananku, langsung saya panggil2. Doi bilang, karena cuti panjang dan paket dialamatkan ke kantor, tidak ada yg berani menerima di kantor. Horee, satu paket sudah ketemu! Sekarang tinggal mengejar seller rese itu untuk paket yg satu lagi.
  • di Lantai 2 (Auditorium/Loket): salah pintu! Bukannya kembali ke bagian pengunjung, malah lewat pintu petugas. Setelah berjalan cukup jauh, perasaan gw ko' ga enak ya, kenapa gw jadi bisa lihat aktivitas petugas pos di meja, baik jualan prangko, nge-print resi pengiriman/pembayaran... Buru-buru balik kanan, kabuurr.. Ah, akhirnya nemu jalan keluar (dan teh botol dingin) dari labirin ituh.
Kesan saya :
  1. Wah, banyak bgds yg masih dikerjakan manual, padahal ini Kantor Pos Besar loh.
  2. Tour keliling gedung Kantor Pos ternyata menyenangkan juga. Apalagi klo buat anak-anak. Sayang, belum sempat melihat yg namanya mesin sortir tuh kek apa ya.
  3. Masih banyak petugas pemerintahan yg jujur (walo teuteup santai). Semua yg saya coba beri tip, merasa malu dan menolak. Padahal mereka sudah dengan baik mengantar saya ke sana ke mari.
======================================
posting dari multiply saya 6 Jan 2009 yang dipindahkan karena multiply akan menutup fasilitas blog-nya.

Comments

Popular Posts