Sunday, February 08, 2009

Perfume Review: Diorissimo by Christian Dior

“Truly, this is what I call real scent of Lily of the Valley! Finally, my quest is over! “

Semprotan pertama Diorissimo diawali dengan sedikit wangi dedaunan hijau yang segera ditimpa oleh wangi lily-of-the-valley yang murni dan ‘crisp’ hingga berjam-jam. Memang, parfum ini diciptakan untuk bertumpu pada satu wangi bunga saja. Walaupun beberapa jam kemudian, sayup-sayup (antara ada dan tiada :-)) muncul wangi melati, kelembutannya tetap dipergunakan untuk membingkai wangi lily-of-the-valley. (Catatan: Ibu bos saya bilang kalau beliau merasakan kehadiran melati yang kuat di parfum ini).

Saya mengasosiasikan Diorissimo dengan:
o Kesegaran yang terasa setelah hujan turun, dan kita dapat minum teh panas di teras sambil membaca buku serta sesekali melihat bunga di pekarangan
o Wangi tubuh bersih yang baru saja keluar dari kamar mandi, setelah diguyur bergayung-gayung air dingin di siang hari yang panas dan lembab.
o Kecantikan sahabat saya saat kuliah dulu, yang beberapa kali menggunakan Lily-of-the-Valley Body Spray dari Marks and Spencer
o Sabun mandi batang merek “Paquito” jenis “Lys-de-France” yang dapat dibeli di supermarket terdekat, kalau tidak salah harganya sekitar Rp 2000-an. Wangi Lily-of-the-Valley-nya 80% mirip, walau tidak sekompleks parfum ini siy.

Setelah bertahun-tahun sang parfum klasik ikut menambah keceriaan dunia, ada banyak versi botol yang beredar. Karena bingung pilih ilustrasi botol yang mana, saya mengambil gambar di samping yaitu representasi parfum ini dari René Gruau: seorang perempuan memunggungi layar dengan membawa satu buket bunga lily-of-the-valley.

Top note : Dedaunan hijau, Bergamot
Middle note : Lily of the valley, Melati, Lily, Amarylis
Base note : Cendana, Civet
Date of Creation : 1956
Image source : vip-parfumeria.hu

No comments:

Post a Comment