Friday, February 06, 2009

Perfume Review: Avalon Juniper by Pacifica Perfume

Tiga belas tahun lalu, di tahun 1996, Brook Harvey-Taylor dan Billy Taylor sepakat membangun Pacifica Perfume. Bahkan di tahun itu pun, pasar wewangian sudah mulai jenuh sehingga mereka tidak langsung meluncurkan parfum. Sebagai gantinya, lilin-lilin cantik yang terbuat dari bahan alami (minyak kedelai dan kelapa organik) diluncurkan, lengkap dengan wewangian favorit pilihan Brook. Laris manis.

Musim gugur 2008 kemarin, Pacifica meluncurkan range Solid Perfume. Ada lima pilihan: Tibetan Mountain Temple, Spanish Amber, Mexican Cocoa, Madagascar Spice dan yang akan saya tulis di sini: Avalon Juniper. Seluruh range ini terbuat dari minyak kelapa, kedelai dan esensial alami, 100% vegan! Hmm, saya langsung berpikir,"Cocok sekali dengan tema tahun ini yang mengusung kosmetik eco-friendly." Bentuk kaleng yang mungil, seukuran tutup botol vitamin Hemaviton Skin Nutrient, memudahkan untuk membawanya ke mana saja, termasuk ke dalam airport yang melarang membawa parfum.

Jujur, saya tidak tahu apa itu juniper selain sekilas memori tentang wangi cemara. Lebih lagi, karena range parfum ini melekatkan nama-nama tempat, misalnya Tibet / Spanyol / Mexico / Madagascar, secara otomatis saya bertanya-tanya, dimanakah Avalon? Seingat saya, Pulau Avalon adalah pulau dalam mitos tentang King Arthur. Pencarian di Google memberikan informasi adanya kota Avalon di Kepulauan Catalina, California. Ternyata, memang benar ada satu spesies juniperus californica di sana.

Parfum solid Avalon Juniper ini, terus terang, tidak memiliki wangi yang luar biasa. Malahan, kesan pertama saya adalah,"Kok wanginya seperti minyak telon." Belum lagi, komentar teman saya,"Pinjam dong, Mbak, balsamnya!" Dan, dia benar-benar mengoleskan parfum ini seperti mengoleskan balsam! Duh!

Bila kita hirup langsung dari kalengnya, tercium kesegaran grapefruit yang langsung mengingatkan saya akan kotak jus grapefruit impor penuh berisi cairan asam-manis yang dingin menyegarkan. Hmm, suatu kemewahan bagi lidah saya.

Satu colek yang dioleskan di kulit menampilkan wajah Avalon Juniper yang sesungguhnya: sedikit wangi bunga, banyak wangi rempah. Saya menghirup wangi kayu manis bercampur dengan wangi herbal yang green, tajam yang langsung mengingatkan saya pada pinus. Okay, mungkin itulah dia wangi juniper. Percampuran keduanya langsung mengingatkan saya pada...balsam. Apalagi teksturnya segera mencair di kulit, memberikan kelembaban seperti selapis mentega. Well, bukan tektur yang saya suka.

Terlepas dari itu, wanginya sangat menenangkan, hangat dan spicy, serta cocok untuk musim sejuk berhujan sekarang ini. Wanginya pun tidak menguar melainkan lebih close ke kulit, sehingga paling yang dapat menghirup hanya kita sendiri dan orang di sebelah kita. Dalam hemat saya, Avalon Juniper Solid Perfume cocok bila kita tidak ingin menarik perhatian, atau bila kita sedang egois dan mau memakai parfum hanya untuk diri sendiri, atau bila ingin sesuatu yang menenangkan (sambil menghirup teh dan mengecek Fasity, seperti yang sedang saya lakukan sekarang :-)).

Avalon Juniper Solid Perfume dijual dengan harga $9 di situs Pacifica. Sayang, saya tidak berhasil membujuk agar mau mengirimkan ke Indonesia, padahal ingin sekali punya yang beraroma Mediterranean Fig atau Bali Lime Papaya (yes, they sold Bali, too!). Jadi, sepertinya harus membelinya di eBay atau Amazon.

No comments:

Post a Comment