Friday, February 27, 2009

Perfume Review: Acqua di Gio for Women by Giorgio Armani

Acqua di Gio diluncurkan sebagai pelengkap dari Acqua di Gio for Men yang lebih dulu diluncurkan dan menuang kesuksesan besar hingga sekarang. Sebaliknya, parfum untuk wanita ini biasa saja dengan wangi melati dan sweet pea yang mengingatkan saya pada bedak murahan yang pernah saya beli di Ramayana.

Sebenarnya, semprotan pertama sangat indah. Terhirup manisnya persik, kecutnya lemon serta tajamnya nanas. Menurut Osmoz.com, Armani memasukkan anggur muscat dari kepulauan Pantalleria. Juga ada wangi melon kuning dan semangka (red: wangi semangka ini jelas sintetis karena sulit sekali mendapatkan esens semangka alami). Aroma tengah menampilkan wangi melati berpadu bunga sweet pea yang kuat dan agak mengerikan. Serius, mengerikan, karena saya pernah mencium wangi pengharum ruangan yang hampir mirip seperti ini dan hidung saya langsung sakit saat itu. Apalagi sekarang saat saya mencoba Acqua di Gio, manalagi pas sedang menyetir di bawah sinar matahari Jakarta yang ganas. Saya hampir pingsan! Kepala sakit, perut mual. Tersiksa rasanya. Saya harap, suatu saat dapat terbiasa. Nah, aroma bawahnya ini yang cantik: campuran dari kesturi dan damar yang mampu menjinakkan wangi melati-sweet pea tadi.

Bagaimana pun, saya mengacungkan jempol untuk parfum ini. Tahan lama dan terbuat dari bahan berkualitas, sintetik atau alami saya tidak terlalu peduli. Terutama karena ada damar di situ. Tahu kan, bahwa pulau Sumatra adalah salah satu penghasil damar terbaik?

----------------------------------------------------------------------
Top Note: Violet, Peach, Pineapple, Lemon, watermelon, cantaloupe
Heart Note: Jasmine, Hyacinth, Lily of the Valley, Ylang-Ylang
Base Note: Musk, Sandal, Styrax, Amber

Wednesday, February 25, 2009

Perfume Review: Miss Dior Cherie by Christian Dior

Siapa bilang bos perempuan itu jutek? Boss saya mantan model, kalem, berkelas, dan kaya. Yang terakhir itu tentu saja sangat mempengaruhi selera dan penampilan beliau. Suatu hari, dia membawa sebotol J'adore dan memberikan sampel Miss Dior Cherie. Saya coba segera! Setetes di pergelangan tangan mendadak memberikan kesan berkelas, tepat seperti beliau.

Aroma atas dari parfum ini adalah campuran dari jeruk tangerine, daun stroberi dan kelopak bunga violet. Hasilnya sangat indah, kehijauan yang bening. Aroma tengah bersifat manis seperti gula walaupun saya tidak berhasil mendeteksi wangi melati. Tetapi, itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wangi bawahnya yang indah, campuran dari nilam dan kristal kesturi.

Perasaan saya setelah menggunakan parfum ini, saya siap pergi ke suatu makan malam dalam acara pergelaran lukisan dengan Jimmy Choo di kaki sambil menyandang salah satu Balenciaga yang sederhana di bahu. Malam berlangsung panjang apalagi dengan segelas sampanye di tangan. Ah, indahnya.

Top Note: Green Tangerine, Strawberry Leaves, Violet
Heart Note: Pink Jasmine, Wild Strawberry, Pop Corn
Base Note: Patchouli, Crystalline Musk
Year of Launching: 2005

Monday, February 23, 2009

Perfume Review: Nina by Nina Ricci

Bentuk botol yang sungguh menggoda! Entah kenapa, saya selalu tergila-gila dengan botol berbentuk apel walaupun sedikit merepotkan saat membawanya di tas. Nah, botol Nina dari Nina Ricci ini salah satunya: bikin repot tapi menggemaskan. Desain botol ini sendiri merupakan interpretasi ulang dari botol lawas Fille d'Eve besutan tahun 1952.

Nina adalah parfum bernuansa muda, lezat, manis sekali seperti toffee sehingga saya hampir saja melahapnya. Jangan salah, Nina juga segar dan – apa ya, sulit juga melukiskannya – menggiurkan. Aroma atas Nina sangat renyah dan tepat melukiskan pengalaman kita saat memotong lemon dan jeruk nipis. Kesegaran ini segera bercampur dengan aroma tengah yang terdiri dari apel, peony, dan praline. Ah, saya cinta! Rasanya seperti makan biskuit beroleskan krim lemon. Garing nan enak. Apalagi ditambah susu coklat panas. Sayangnya, wangi kayu dalam komposisi aroma bawah Nina tidak pernah keluar. Atau, mungkin juga hidung saya mengunci hanya aroma atas dan tengah yang memabukkan itu.

Satu hal yang saya rasa, kekuatan parfum ini luar biasa. Jadi satu atau dua tetes saja rasanya sudah cukup. Masalahnya, saat saya pertama kali memakai, matahari bersinar sangat panas, udara terik dan berat karena tidak ada angin mengalir. Segera kakak perempuan saya menjauh dan mengeluh,”Aduh, wangi kamu membuat kepala saya pusing. Kental sekali. Awas, jangan berani dekat saya!” Salah saya juga sih. Pelembab tubuh beraroma Nina juga saya pakai padahal itu saja sudah wangi sekali. Kalau ditambah setetes parfum, jadinya: mematikan.

Untunglah, saya hanya memiliki botol mini dari parfum ini. Itupun didapat dari suatu acara bersama majalah Female. Ceritanya, Nina Ricci berniat meluncurkan parfum ini dan mengundang pembaca setia Female untuk menghadiri pembukaan konter di Department Store Sogo. Setelah memberikan kupon kepada deretan pramuniaga cantik, parfum tersebut diluncurkan. Bukan, bukan dengan acara yang keren melainkan hanya dengan sekedar membacakan kelebihan dari parfum ini. Itu pun dengan suara yang sayup-sayup sampai. Keruan saja, 50 orang hadirin agak malas mendengarnya. Setelah mendapat goodie bag, hadirin pun langsung pulang.
---------------------------------------------------------------

Top Note: Calabrian Lemon, Caipirinha Lime
Heart Note: Love Apple, Peony, Fleur de Lune, Praline
Base Note: Apple Tree, White Cedar, Musk

Sunday, February 22, 2009

Perfume Review: Anais Anais by Cacharel

Anais Nin, seorang penulis aliran feminis, pernah berkata,”Berdasarkan insting, saya hanya memilih pria yang setara dengan saya, yang menuntut banyak hal dari saya, yang tidak meragukan semangat dan ketangguhan saya, yang yakin bahwa saya tidak naif atau polos. Intinya, seorang pria yang memperlakukan saya seperti wanita sejati.”

Seorang teman kuliah saya tergila-gila dengan penyegar tubuh Lily of the Valley dari Marks and Spencer. Terinsipirasi oleh kegilaannya itu, saya pergi ke mal mencari penyegar tubuh tersebut. Lho, malah tertarik dengan yang lain, yaitu Anais Anais dari Cacharel. Bentuk botolnya sederhana dan saya akui, agak ketinggalan zaman.

Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menyemprotkannya di paper strip lalu menghirupnya. Aduh! Hidung saya langsung sakit dihantam wangi kesturi sintetis yang kuat. Bingung juga saya karena wangi kesturi tidak tercantum di daftar aroma pencampur parfum ini. Setelah agak lama, terhirup wangi kayu yang manis namun lembut. Seketika saya teringat pada ibu saya. Baiklah, bukan kesan yang saya inginkan kalau begitu. Saya tidak jadi membelinya.

Top Notes: bergamot, galbanum, hyacinth, honeysuckle
Middle Notes: lily, lily of the valley, rose, ylang-ylang, gardenia
Base Notes: cedarwood, sandalwood, amber, oakmoss
Year of Launching: 1978

Saturday, February 21, 2009

Perfume Review: True Rose by Woods of Windsor

Sekuntum mawar mekar adalah pemandangan indah bagi saya. Wanginya juga selalu sukses membawa kebahagiaan bagi saya. Bahkan, dalam penyembuhan holistik, bau mawar adalah salah satu sumber ketenangan dan biasanya digunakan dalam terapi aroma.

Hal inilah yang saya harapkan dari wewangian True Rose. Akhirnya memang jadi kenyataan. Wewangian ini hanya terasa mawar saja di hidung saya, tidak ada geranium atau freesia. Sayangnya, keharuman ini tidak tahan lama. Saya mesti menyemprotkan ulang setiap dua atau tiga jam. Akibatnya dapat ditebak, satu botol cepat sekali habis. Ya tidak apa, asalkan tujuan utama untuk mencari ketenangan dapat terlaksana.

Lucunya, bila saya pergi ke Plaza Indonesia, ada satu toko Lovely Lace yang sepertinya bermandikan parfum True Rose, hanya saja sedikit berbalur wangi bedak. Jadi, saat botol saya sudah tiris, tinggal pergi melewati toko ini saja. Rasanya sama seperti membaui wangi kesayangan saya.

Notes: aroma soliter dari mawar, freesia, geranium
Tahun Peluncuran: sekitar 1800-an

Thursday, February 19, 2009

Perfume Review: Virtuessence of Esther by Virtue and Valor

Queen Esther said when she must save her people and went to Great Persian King Ahasuerus, without his summons, which meant death for her, “….And so will I go in unto the king, which is not according to the law: and if I perish, I perish.”

To be frank, I almost cry smelling this perfume oil. Never in my life, I found a scent so beautiful, richly complex, deeply motivating. A fragrance that transform me into another dimension when women are praised high, not only for mere beauty nor sensuality - but for her good attitude, her courage to stand for the poor and her good deed.

Seperti simponi dari suatu orkestra andal, setiap aroma berbunyi selaras. Pertama, kesegaran kenanga merebak dan segera ditingkahi berkas-berkas jeruk yang berteriak di sana sini. Jarang sekali saya menemukan – ataupun suka - kenanga dijadikan wangi awal karena wanginya agak mencolok.
Tidak lama, wangi bubuk kayu manis bangkit mendominasi, diperindah dengan wangi cengkeh. Untuk sesaat, saya tersenyum, ingat kebiasaan saya yang membubuhkan bubuk kayu manis banyak-banyak di setiap cangkir kopi panas Starbucks.

Mengalun perlahan, lembutnya melati menyelimuti saya seperti awan memabukkan, seperti kabut mengelilingi puncak gunung. Segar, menenangkan, dan membangkitkan keanggunan perempuan sejati dari dalam diri. Talk about a lady’s inner beauty; I felt like a princess running in my English garden, wearing my stunning ball gown, full of spirit of life.
Di tengah menikmati keharuman melati, wangi kemenyan/dupa naik, bercampur dengan wangi cendana. Rasanya seperti dilempar ke suatu sore yang cerah, di gereja mungil dekat kos saya dulu. Kami terpaksa ikut Misa Paskah terakhir, dalam bahasa latin. Walau tidak mengerti apa pun, dan terpaksa lirik kanan kiri untuk melihat kapankah waktu berdiri/duduk/berlutut, misa terasa spesial dan khidmat. Wangi dupa saat imam memberkati pengunjung yang jumlahnya dapat dihitung jari, membekas di ingatan saya.

Secara keseluruhan, parfum ini sangat kompleks. Berjam-jam setelah semprotan pertama, setelah wangi tersebut bereaksi dengan susunan kimia tubuh, muncul wangi yang berbeda di setiap bagian tubuh. Yang menguar dari tubuh bagian tengah adalah manisnya amber bercampur dupa. Sedangkan di punggung tangan, wangi melati dan kayu manis masih bertahan, dengan vanilla mengintai diam-diam di belakang. Pergelangan tangan saya malah wanginya tercampur baur. Sinkronisasi terjadi lama setelah itu, ketika wangi musk dan vanilla lembut berpadu seperti kulit kedua.
Parfum ini bukan jenis yang sensual. Sudah 4 orang teman pria saya tanya, komentar mereka macam-macam,”Elegan,” atau,”Hmm, menarik, jadi ingat waktu keliling Eropa,” atau,”Wanginya lembut ya, kayak wangi baby oil-nya anak gue,” hingga,”Eh, kok kamu wangi cinnamon roll, mending kita ngupi-ngupi dulu yuks di Pain de France.” Hiyaaa !!!
Hemat saya, parfum ini lebih tepat digunakan untuk acara keagamaan, acara keluarga, ke kantor/sekolah, walau tetap cukup lembut untuk kegiatan luar ruangan seperti piknik dan outbound. Btw, kalau sedang stress dan ketakutan karena akan menghadapi rapat penting, atau pikiran buntu padahal harus membuat tulisan dan dokumen, berarti parfum ini juga cocok. Entah kenapa, herannya kok ya wanginya membangkitkan semangat dan inspirasi saya hari ini, untuk menjadi perempuan yang lebih kuat, seperti Joan of Arc, seperti Cut Nyak Dien, atau seperti Ratu Esther.

Catatan Montie :
o Ratu Esther yang menginspirasikan parfum ini bukanlah Ratu Esther yang sama dengan yang dilukiskan oleh film “One Night with the King”, terutama saat adegan Ratu Esther menghadap Raja Ahasyweros tanpa diundang. Keberaniannya mungkin sama, tapi pakaian yang digunakan ratu dalam film kok terlalu mengundang ya, dan sangat tidak mencerminkan cerita sebenarnya dalam alkitab.
o Parfum (USD 70) dapat dibeli secara online di Virtue & Valor, Inc, Port Orchard, US, a niche perfumery, www.virtueandvalor.com. Pembayaran menggunakan mekanisme Paypal. Pengiriman sampai dalam waktu seminggu.

Top notes : Lily, Jeruk, Kenanga
Middle notes : Kayu Manis, Jahe, Melati, Cengkeh
Base notes : Vanili, Amber, Musk, Nilam, Kemenyan/Dupa, Kayu Cendana
Image : diambil dari www.virtueandvalor.com

Wednesday, February 18, 2009

Perfume Review: Vetiver Hombre by Adolfo Dominguez

"Are you tired, Mom?" I asked.
"Nope. Don't worry about whether I am tired. You should be more worried of whether I am smelly," she smiled happily and wiped her back with a fresh Gatsby bronzed-orange wet tissue.

Kami sedang berada di kereta api kelas ekonomi jurusan Malang-Jakarta, dalam perjalanan pulang berdua sehabis Lebaran. Perjalanan memakan waktu 24 jam karena ada kereta yang mogok dan menghambat jadwal yang lain. Orang penuh berjubel hingga ke toilet, belum lagi penjual nasi rames dan dompet kulit bercorak batik yang keukeuh, walau kita sudah bilang ga mau (dan ga bakal!) beli. Bermacam-ragam bau (keringat, bedak bayi, kopi basi, debu) menguar di udara. Saya misuh-misuh atas ide Mama yang keukeuh menghemat uang dan naik kereta ekonomi begini (kalau tidak salah, harga tiketnya masih Rp 11,000). Katanya, untuk tabungan uang kuliah saya. Sempat saya melirik kondisi Mama yang awut-awutan (tapi tetap cengar-cengir), beda sekali dengan keseharian beliau yang selalu rapi dan bisa mandi 5 kali sehari. Lalu, beliau sibuk melap tengkuk dan punggung saya dengan tisu Gatsby. Kaki kami bengkak dan sakit, tapi perasaan kami senang.

Saat vial Vetiver Hombre sampai, isinya tinggal setengah. Saya skeptis. Ternyata, semprotan pertama - campuran kesegaran lavender dan kecutnya rasa jeruk nipis dari neroli/bergamot - langsung mengingatkan saya pada Mama dan tisu Gatsby-nya. Indah, seindah kasih Mama saya. Wangi itu terus bertahan, mengalahkan wangi tengah (cengkeh dan pala) yang seharusnya muncul. Syukurlah. Saya sedang tidak mood menghidu cengkeh.

Lama sekali, wangi Gatsby ini melapisi tubuh saya. Perlahan, wangi akar-wangi muncul berpadu sedikit kayu. Wanginya segar menenangkan persis seperti wangi tanah. Bukan wangi tanah kering melainkan wangi tanah yang meruap naik saat tetesan air hujan pertama membasahi tanah. Ah, wewangian yang indah. Segalanya tepat sesuai dengan keinginan saya.

Marisa from Mybutik.com, thanks for sharing me your half-used vial of this rare scent. It really means a lot.

Top Notes : minyak lavender, neroli, bergamot
Middle Notes : cengkeh, pala
Base Notes : aroma kayu, kesturi, vetiver (akar-wangi)
Picture : taken from ebay seller onsalesshoes
Date of Creation : 1998

- malam ini, Montie sudah menghabiskan 1/4 vial. entah kenapa, terlepas dari wanginya yang kecut dan tajam, Montie malah merasa rileks dan mengantuk. apa karena pengaruh lavender ya, atau karena pengaruh vetiver yang seperti wangi tikar? xixixixi-

Monday, February 16, 2009

Perfume Review: White Musk by Alyssa Ashley

Tadinya malas coba-coba ini, soalnya sudah banyak tiruannya. Kan ga lucu kalo pakai yang harganya ratusan ribu tapi disangka pakai yang seharga 4,000 :-) Eh, ndilalah ternyata Apotik Century juga jual parfum (model lama) sekarang. Sebegitu turun-kah 'kelas' parfum ini sehingga dikategorikan sebagai barang 'drug-store'? Memang, wangi White Musk sederhana sekali, minimal kesan itu yang muncul begitu tetesan pertama menyentuh kulit tangan saya. Hanya terdiri dari powdery-aldehydes di atas dan campuran aroma melati-mawar-violet yang secara keseluruhan membentuk wangi musk yang seksi, segar, rasanya sepanjang hari memakai bedak bayi. Tapi ya itu, biasa (karena sudah banyak tiruannya). Jadi, saya tidak jadi beli deh :-)

PS: saya benci wangi powdery-aldehydes. Di Original Musk (Alyssa Ashley juga), wangi aldehydes ini adalah salah satu komponen aroma-nya. Di White Musk, lha kok ada juga, walaupun Alyssa Ashley tidak memasukkannya dalam daftar. Efek dari powdery-aldehydes buat saya adalah: pusing dan mual, seperti disiksa menghirup alkohol cair beraroma segentong bubuk bedak bayi dan harus habis.

Oleh karena itu, saat pertama kali menghirup White Musk, saya benar-benar mual. Habis menghirupnya semangat bgds dan baru beberapa detik kemudian sadar kalau ada wangi aldehydes disitu. Huh,bilang-bilang donk!

Karena Chanel No 5 juga punya wangi aldehydes yang berlebihan bgds, sampai sekarang saya masih bingung menghabiskan botol besar di lemari saya. Menyentuh saja ga berani (malah botolnya saya bungkus pakai koran, dilapisi kain, dimasukkan kotak lagi terus ditaruh jauh di pojokan, di depannya saya kasih pakaian).


Top Notes : Bergamot, Kenanga, Piment-Baies
Middle Notes : Melati, Lily of the Valley, Mawar, Violet
Base Notes : Nilam, Amber, Vanili, Rumput Ilalang
Date of Creation : 2000 , image taken from AlyssaAshley.com

Saturday, February 14, 2009

Perfume Review: Sheer Veil by Vera Wang

"There is nothing as symbolic or seductive as a veil. It is the ultimate expression of femininity and drama. Every woman wears it differently. The idea of fragrance as a veil for the body is astonishingly sensual." (slogan yang ada di situs Vera Wang Wedding).

Di titik tertentu, saya setuju berat dengan Mrs Wang, perancang gaun pengantin ternama, bahwa yang namanya cadar itu memang menggoda, pingin tahu di baliknya ada wajah manis atau pahit :-) Makanya, begitu mendapat sampel parfum ini, saya langsung membayangkan yang iya-iya,"Duh, malam pertama bersama suami, dengan parfum Sheer Veil, pasti asik. Yah, minimal lebih asik dibandingkan klo pengantin perempuan memakai Cap Lang."

Saya yakin, parfum ini dibuat untuk saat-saat seperti itu, dimana tidak ada yg lebih penting daripada pernyataan cinta (blushed). Wewangian ini akan menemani dengan aroma romantis dari mawar, violet dan lili.

(Sebenarnya, saya kurang tega bilang,"Ini wangi bebungaan biasa saja, sangat tidak pantas menyandang nama Vera Wang. Jenis-nya mirip dengan Elizabeth Arden Fifth Avenue." Tapi harganya beda jauh, EA 5th Ave hanya sekitar 300rb kurang dikit, harga Vera Wang Sheer Veil bisa sekitar 700rb. Glek! Kalo sudah mahal geto, pengantin pria sepertinya boleh cukup puas dengan Cap Lang).

--------------------------------------------
ENGLISH VERSION COULD BE FOUND AT http://www.chicwhiff.com/2009/02/vera-wang-sheer-veil-fragrance-review.html

Friday, February 13, 2009

Perfume Review: (damn-sexy) Djin for Men by Michael Storer

Teman pria saya bertanya,"Pengganti apa yang cocok untuk Bulgari Blv? Saya memakainya bertahun-tahun dan siap menggantinya sekarang."

Jawab saya,"Maaf, rasanya tidak ada! Bulgari Blv sangat seksi, menggoda, sensual. Tipikal seorang pria yang berada dalam puncak, menikmati apa pun yang ditawarkan kehidupan kepadanya."

Ternyata saya salah.

Cuaca Indonesia yang aneh akhir-akhir ini, matahari cerah bersinar diselingi hujan musim panas disana-sini, membuat saya memutuskan untuk membuka seri paket wewangian Michael Storer. Secara instan, mata saya tertumbuk pada "Djin". Pikir saya, nama yang aneh...

Saya jatuh cinta pada hirupan pertama!

Wangi udara gunung, tajamnya buah, berpadu dengan powdery-rose yang ditimpali wangi kayu teak. Sama sekali bukan wangi kayu yang manis seperti cendana atau cinnamon, tapi teak yang lembut dan maskulin. Semuanya menenggelamkan saya dalam ekstase dan khayalan akan seorang pria dengan perut six-pack, jean Levis 501 dan kemeja putih terbuka. Tawa menggoda, mata tajam dan kerutan di sudut mata, aduh... Seorang pria yang dapat saya peluk sepuasnya, hingga saya tenggelam dalam wangi tubuhnya yang menggoda. Lebih parah lagi, saya juga dapat mencium wangi keringatnya yang bersih dan seksi. Ampun, deh, jadi 'bingung', xixixixi...

Lama setelahnya, wangi dasarnya tercium: wangi musk yang lebih manis, lebih 'animalic' dari yang pernah saya kenal. Apakah ini karena pengaruh civet, saya tidak tahu. Tapi sekali lagi, muncul pikiran aneh bahwa saya ingin memeluk dan menyentuh pria pemakai parfum ini. Konyolnya, yang saya bayangkan,"Pasti enak, seperti membelai koala, atau menyentuh kasarnya kulit kijang, memeluk Golden Retriever keemasan."

Parfum yang sangat sesuai untuk udara (dan pria) Indonesia, segar namun lembut. Bahkan, tercium sangat seksi/sensual bagi perempuan (at least, minimal buat saya :-)) dengan cara yang jauh lebih menggoda, lebih 'spicy', lebih menggairahkan daripada parfum lain yang pernah saya kenal. Saya juga sempat bingung alasannya hingga menemukan Aldron di salah satu komponen pembuatnya, yang tak lain tak bukan adalah,"Bahan sintetik; menimbulkan sedikit wangi asam bila dipanaskan; imitasi dari feromon; dapat menggoda wanita dan membuatnya menjadi lebih horny;imitasi dari testosteron yang ditimbulkan gajah bila sedang bertarung."

Speechless.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Parfum dapat dibeli online di www.michaelstorer.com dengan harga $75 untuk ukuran 59ml. Sampel datang dengan selamat di Indonesia.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Top Notes : Lemon, Grapefruit, Daun Ivy, Muguet (aroma bunga Lily)
Middle Notes : Teh Oolong absolut, biji Kapulaga, pink pepper, galbanum, geranium & esens mawar, verbena
Base Notes : kayu teak, kayu cendana, minyak civet, castoreum (sekresi berang-berang), musk
Image : perfumemaking.blogspot.com

Wednesday, February 11, 2009

Perfume Review: Boss in Motion by Hugo Boss

Saya mendapatkan parfum ini dari seorang teman yang hobi merokok. Saat itu, isinya tinggal sedikit, jadi teman saya itu merelakan parfum kesayangannya...asalkan ditukar dengan yang lain yang masih penuh. Halah! Sebotol Benetton pun daku relakan untuknya! xixixixixi...

Pas saya bawa ke kantor, kolega pria saya (perokok juga) langsung melotot,"Kok elo pake parfum cowok? Ikutan gw ajah!" Duuuuuh, jeung, galaks bgds.. Salahnya parfum ini, kok wanginya segar dan unisex. Terhirup kehijauan daun, jeruk bergamot, rempah dari pala & kapulaga. Dan, setelah agak lama, ada aroma akar wangi yang saya cintai.

So energizing!

Dan, coverage wanginya cukup mumpuni untuk menutupi wangi lain-lain yang aneh. Misalnya, seperti siang tadi, sehabis makan di food court, ndilalah, tubuh saya beraroma bakwan goreng. Lapisi saja aroma bakwan tersebut dengan Boss in Motion sebanyak 4 semprot. Dijamin, segar bertenaga! Rasanya seperti nyemplung di bak mandi penuh air anyep sehabis main layangan di lapangan.

Bahkan, adik saya yang tidak suka parfum pun memutuskan untuk meminjam (paksa) saat doi mau meng-apel-i pacarnya. Komentar ibu saya,"Wah, kok tumben, wangi kamu enak sekali."

Tapi kenapa ya, dari semua pria pemakai parfum ini, kok perokok semua. Pasti untuk menutupi wangi rokok-nya.
------------------------------------------------
Top Notes: bergamot, violet leaves, basil
Middle Notes: pink pepper, cinnamon, cardamom, nutmeg
Base Notes: sandalwood, vetiver, musk-notes
Year of Creation : 2002

Tuesday, February 10, 2009

Perfume Review: Gucci pour Homme by Gucci

Seorang teman yang baik merelakan parfum mini koleksinya. Dan, kejutan yang menyenangkan datang di meja kantor saya: satu botol uprit dan imut Gucci pour Homme Classic koleksi lama! Sudah sulit mencari parfum ini sekarang. Bahkan, salah satu toko online mencantumkan harga USD 150 untuk botol 125 ml, itu pun harus pesan dulu.

Gembira, saya membuka botol itu, menghirup uapnya langsung dari botol, dan tersentak karena disengat kuatnya wangi asap,”Buset, ini minyak wangi cap Gucci apa minyak angin cap Kapak!” Penasaran, saya menggunakan setitik di pergelangan tangan. What a beautiful scent that is! Apa yang saya kira wangi asap ternyata lebih mirip wangi kayu yang terbakar, disusul wangi tengah berupa tembakau murni (tanpa cengkeh). Ketika mulai mengendap, bersamaan dengan tembakau, wangi musk yang bersih timbul, manis, ‘dingin’, polos, hampir mirip wangi sabun mandi batangan yang tertinggal di kulit setelah kita mandi serta air di tubuh kita selesai dihanduki.

Ingatan saya melayang ke masa 16 tahun lalu, ketika masih duduk di bangku SMA, ketika masih gemar camping dan hiking: ketika kedinginan, kelaparan, darah rendah kumat, kulit luka, lutut memar, dan wangi asli karena jarang mandi masih dianggap kesenangan hidup paling utama.

Wewangian ini pergi membawa saya ke masa-masa itu, dimana saya mencebur begitu saja di air sungai yang bening. Mandi seadanya dengan baju lengkap, menggunakan sabun Lux murahan warna putih, lalu duduk menghalau dingin di depan api unggun sambil minum sedikit wiski yang diedarkan teman-teman. Kerasnya wiski membakar tenggorokan dan perut saya, Hangatnya persahabatan dan kuatnya perlindungan teman-teman menentramkan hati saya, seorang perempuan kecil yang sedang mencoba mengetahui rahasia alam. Di depan api unggun itu saya dapat tidur pulas, sambil mendengarkan gitar, mencium aroma sigaret di udara, beralaskan kantong tidur, diselimuti tumpukan jaket tebal, beratapkan bintang-bintang, menghirup udara segar dan bekunya angin, sambil memimpikan masa depan yang terbentang luas di hadapan saya.

Dalam botol kecil itu, segala memori masa muda saya tertanam.

Suatu saat, ketika hidup terasa keras dan cepat, saya hanya perlu duduk diam lalu menggunakan Gucci ini: seketika membiarkan kenangan membanjiri otak saya; seketika disegarkan semangat masa muda, mengalir pesat dalam darah.

Aroma : dedaunan hijau, kayu kering berasap, tembakau, soapy-smell-musk
Date of Creation : dunno, perhaps around 1976

Sunday, February 08, 2009

Perfume Review: Diorissimo by Christian Dior

“Truly, this is what I call real scent of Lily of the Valley! Finally, my quest is over! “

Semprotan pertama Diorissimo diawali dengan sedikit wangi dedaunan hijau yang segera ditimpa oleh wangi lily-of-the-valley yang murni dan ‘crisp’ hingga berjam-jam. Memang, parfum ini diciptakan untuk bertumpu pada satu wangi bunga saja. Walaupun beberapa jam kemudian, sayup-sayup (antara ada dan tiada :-)) muncul wangi melati, kelembutannya tetap dipergunakan untuk membingkai wangi lily-of-the-valley. (Catatan: Ibu bos saya bilang kalau beliau merasakan kehadiran melati yang kuat di parfum ini).

Saya mengasosiasikan Diorissimo dengan:
o Kesegaran yang terasa setelah hujan turun, dan kita dapat minum teh panas di teras sambil membaca buku serta sesekali melihat bunga di pekarangan
o Wangi tubuh bersih yang baru saja keluar dari kamar mandi, setelah diguyur bergayung-gayung air dingin di siang hari yang panas dan lembab.
o Kecantikan sahabat saya saat kuliah dulu, yang beberapa kali menggunakan Lily-of-the-Valley Body Spray dari Marks and Spencer
o Sabun mandi batang merek “Paquito” jenis “Lys-de-France” yang dapat dibeli di supermarket terdekat, kalau tidak salah harganya sekitar Rp 2000-an. Wangi Lily-of-the-Valley-nya 80% mirip, walau tidak sekompleks parfum ini siy.

Setelah bertahun-tahun sang parfum klasik ikut menambah keceriaan dunia, ada banyak versi botol yang beredar. Karena bingung pilih ilustrasi botol yang mana, saya mengambil gambar di samping yaitu representasi parfum ini dari René Gruau: seorang perempuan memunggungi layar dengan membawa satu buket bunga lily-of-the-valley.

Top note : Dedaunan hijau, Bergamot
Middle note : Lily of the valley, Melati, Lily, Amarylis
Base note : Cendana, Civet
Date of Creation : 1956
Image source : vip-parfumeria.hu

Friday, February 06, 2009

Perfume Review: Avalon Juniper by Pacifica Perfume

Tiga belas tahun lalu, di tahun 1996, Brook Harvey-Taylor dan Billy Taylor sepakat membangun Pacifica Perfume. Bahkan di tahun itu pun, pasar wewangian sudah mulai jenuh sehingga mereka tidak langsung meluncurkan parfum. Sebagai gantinya, lilin-lilin cantik yang terbuat dari bahan alami (minyak kedelai dan kelapa organik) diluncurkan, lengkap dengan wewangian favorit pilihan Brook. Laris manis.

Musim gugur 2008 kemarin, Pacifica meluncurkan range Solid Perfume. Ada lima pilihan: Tibetan Mountain Temple, Spanish Amber, Mexican Cocoa, Madagascar Spice dan yang akan saya tulis di sini: Avalon Juniper. Seluruh range ini terbuat dari minyak kelapa, kedelai dan esensial alami, 100% vegan! Hmm, saya langsung berpikir,"Cocok sekali dengan tema tahun ini yang mengusung kosmetik eco-friendly." Bentuk kaleng yang mungil, seukuran tutup botol vitamin Hemaviton Skin Nutrient, memudahkan untuk membawanya ke mana saja, termasuk ke dalam airport yang melarang membawa parfum.

Jujur, saya tidak tahu apa itu juniper selain sekilas memori tentang wangi cemara. Lebih lagi, karena range parfum ini melekatkan nama-nama tempat, misalnya Tibet / Spanyol / Mexico / Madagascar, secara otomatis saya bertanya-tanya, dimanakah Avalon? Seingat saya, Pulau Avalon adalah pulau dalam mitos tentang King Arthur. Pencarian di Google memberikan informasi adanya kota Avalon di Kepulauan Catalina, California. Ternyata, memang benar ada satu spesies juniperus californica di sana.

Parfum solid Avalon Juniper ini, terus terang, tidak memiliki wangi yang luar biasa. Malahan, kesan pertama saya adalah,"Kok wanginya seperti minyak telon." Belum lagi, komentar teman saya,"Pinjam dong, Mbak, balsamnya!" Dan, dia benar-benar mengoleskan parfum ini seperti mengoleskan balsam! Duh!

Bila kita hirup langsung dari kalengnya, tercium kesegaran grapefruit yang langsung mengingatkan saya akan kotak jus grapefruit impor penuh berisi cairan asam-manis yang dingin menyegarkan. Hmm, suatu kemewahan bagi lidah saya.

Satu colek yang dioleskan di kulit menampilkan wajah Avalon Juniper yang sesungguhnya: sedikit wangi bunga, banyak wangi rempah. Saya menghirup wangi kayu manis bercampur dengan wangi herbal yang green, tajam yang langsung mengingatkan saya pada pinus. Okay, mungkin itulah dia wangi juniper. Percampuran keduanya langsung mengingatkan saya pada...balsam. Apalagi teksturnya segera mencair di kulit, memberikan kelembaban seperti selapis mentega. Well, bukan tektur yang saya suka.

Terlepas dari itu, wanginya sangat menenangkan, hangat dan spicy, serta cocok untuk musim sejuk berhujan sekarang ini. Wanginya pun tidak menguar melainkan lebih close ke kulit, sehingga paling yang dapat menghirup hanya kita sendiri dan orang di sebelah kita. Dalam hemat saya, Avalon Juniper Solid Perfume cocok bila kita tidak ingin menarik perhatian, atau bila kita sedang egois dan mau memakai parfum hanya untuk diri sendiri, atau bila ingin sesuatu yang menenangkan (sambil menghirup teh dan mengecek Fasity, seperti yang sedang saya lakukan sekarang :-)).

Avalon Juniper Solid Perfume dijual dengan harga $9 di situs Pacifica. Sayang, saya tidak berhasil membujuk agar mau mengirimkan ke Indonesia, padahal ingin sekali punya yang beraroma Mediterranean Fig atau Bali Lime Papaya (yes, they sold Bali, too!). Jadi, sepertinya harus membelinya di eBay atau Amazon.

Tuesday, February 03, 2009

Perfume Review: Deseo by Jennifer Lopez

Saya suka parfum yg dibuat oleh para selebriti di luar sana!

Engga, dink, becanda. Biasanya saya sebal sekali secara para parfum ini terlalu 'sheer', terlalu 'biasa', a bit boring, wanginya tidak tahan lama. Tidak semuanya siy, seri parfum dari Jennifer Lopez merupakan kekecualian.Deseo sukses membawa saya ke kehijauan daun di kebun halaman rumah. Dan, tiba-tiba saja, saat saya menyemprotkan parfum ini, imajinasi saya langsung membayangkan masa depan yang cerah. Rasanya segala sesuatu tepat jatuh pada tempatnya.

Deseo adalah wewangian tumbuhan hijau, yang entah bagaimana mendadak mengingatkan pada rerumpunan bambu di depan rumah kos saya 5 tahun lalu. Di sana sini, wangi hijau ini bercampur dengan kecutnya jeruk yuzu, yang segera diikuti dengan segarnya citrus dari bergamot.Belakangan, saya menghirup aroma bunga yang creamy berikut setitik wangi logam (logam baru, bukan yang karatan, ada bedanya ga siy wanginya, xixixi). Bergamot masih saja ikut-ikutan. Duh, rasanya seperti makan seiris jeruk mandarin dengan whipped cream di atasnya. Wanginya tahan seperti itu, lamaaa sekali.

Kesimpulan saya, walau ringan, wangi ini cukup sensual dan cocok dipakai bulan Oktober-November, waktu matahari masih bersinar tapi udara sudah mulai agak dingin.
------------------------------------------------
Top Notes: daun bambu, yuzu, bergamot, freesia
Middle Notes: melati, geranium, orange blossom, mimosa, mineral accord
Base Notes: amber, oakmoss, kesturi, cendana, cedar, nilam

Sunday, February 01, 2009

Perfume Review: F for Fascinating by Salvatore Ferragamo

Hehehe, sebenarnya review ini terjadi karena iseng pergi ke Glow Living Beauty di Plaza Indonesia, di suatu lunchtime saat saya membutuhkan 'retail therapy' dibandingkan 'lunch' itu sendiri. Jadilah, saya ke konter Ferragamo di situ dan semprot sendiri. Petugas penjualnya baik ya, saya tidak dipelototin walau akhirnya ga jadi membeli setelah menyemprot banyak (huh, ini siy saya saja yg ga tau malu, ga beli kok nyoba banyak).

Majalah Female Jan 2009 memuat parfum ini, katanya terinspirasi dari sepatu. Oh, itu dia sebabnya bentuk botolnya kok familiar ya. Dan, sebenarnya, saya lebih cinta botol-nya daripada isinya. Habis, wanginya biasa saja. Semprotan pertama, ada wangi lemon dan jeruk mandarin, diikuti oleh tajamnya citrus. Cocok untuk pergi darmawisata ke pantai, tapi kan ini musim hujan.

Habis itu, ada wangi melati sambac, itu loh seperti klo kita mencelupkan kelopak melati di bak mandi, direndam semalam, terus melatinya dibuang, nah air-nya kan wangi melati. Kek geto wanginya, persis. Sayangnya, wangi citrus masih ada saja.Tetapi, syukurlah, wangi nilam tidak muncul (anyway, hingga sekarang, hidung saya belum match dengan wangi nilam).

Saran saya, boleh dibeli di bulan Juni. Dibeli sekarang juga boleh siy kalo kamu pecinta wangi yg segar dan 'very light'.

Perfume Review: Hot by Benetton

Guess what, harga Benetton-Hot hanya Rp 45,000 untuk ukuran 50ml (di C&F Perfumery). Jujur, lumayan bgds. Karena menurut saya, ini wewangian yang mirip dengan Chanel-Allure, hanya dengan versi yang sangat ‘kuat menyentak’. Akibatnya, pertama kali menghirup wangi Allure, si Mbak saya marahin,”Ini diisi Benetton Hot ya, Mbak?” Dia balik ngomel,”Ya engga lah, Mbak. Masa wanginya sama. Harganya saja beda 20x lipat begini.”

Hehehe, sebenarnya memang wanginya beda siy, xixixixi... (berusaha menyamankan diri sendiri, memakai Hot sambil mengkhayal pakai Allure. Jauuhhh!!)

Hot dibuka dengan kesegaran yang kuat, tajam menyentak dari paduan macam-macam jeruk yang diperlembut dengan segarnya wangi Lily. Terbentuk wangi yang hangat dan, tidak tahu kenapa, kok menenangkan ya (saya yakin, akibat wangi Iris di sini). Saya suka sekali wangi pembukaan ini dan untungnya, bertahan cukup lama.

Somehow, wangi dasarnya ‘mengaduk’ perasaan saya. Mau dibenci, kok campuran vanilla/musk/oakmoss-nya segar sekali. Tapi kalau tidak dibenci, haduh, ‘segar’-nya vanilla/musk/oakmoss-nya kok ekstrim dan kuat. Impresi yang saya dapat malah mirip sekali dengan Avon-Jazz. Ini parfum saya dulu, yang saya benci setengah mati (dan ga bakal gw buat review-nya) karena dikomentari penumpang angkot yang duduk sebelah saya,”Mbak, minyak wangi-nya kebanyakan pakainya.” Untung, dia cewek juga, terus tampangnya memelas (dan sibuk menghirup minyak kayu putih). Coba kalo cowok, huh!

Terus terang, bahkan orang rumah pun sebal kalau saya memakai Hot. Walau nge-fans dengan Hot, akhirnya saya menyerah, dipakai hanya kalau selesai mandi sehabis fitness. Rasanya pas dan segar, serta dapat membuat ngantuk. Untunglah, ada teman pria saya yang suka dengan wangi ini (dan cocok juga). Jadi, dengan legawa saya izinkan dia bolak-balik minta. Biar cepat habis, bosan juga diprotes orang terus.

PS: menurut Montie, seorang perfum(N)ista sejati pantang menyerah! Walo orang protes, kalau kita cinta dengan parfum tertentu, pakai saja terus, xixixixi.... Aturan yang sama juga berlaku kalau kita masuk angin, sakit perut, dan yang bisa menyembuhkan hanya minyak angin cap kapak dalam jumlah banyak.

Top Notes : Lemon, Jeruk Keprok, Jeruk Mandarin, Rosewood
Middle Notes : aroma Lily (muguet), melati, iris, apricot
Base Notes : kayu Cendana, kayu Cedar, Oakmoss, amber, vanili, musk
Date of Creation : 1997 – Floral Oriental; image taken from perfumeemporium.com