Friday, January 30, 2009

Perfume Review: Twice by Iceberg

Sambil lalu, saya mencium wangi Twice di tangan kanan saya. Campuran melon/persik/teratai, ditambah aroma hijaunya tumbuhan memberikan rasa segar. Lucunya, aromanya benar-benar seperti mencium wangi rambut yang baru selesai keramas dengan sampo. Bersih (catatan: kata orang, cowok tertarik dengan wangi rambut yang baru dikeramas. wah, bisa-bisa pada nempel semua sama gw kalo pakai parfum ini, xixixixi).

Masalahnya, agak lama setelah itu, waktu wangi tengah-nya keluar, dominasi wangi gardenia terasa sekali. Aduh, saya tidak suka gardenia walaupun sahabat saya (cowok!) fans berat lilin wangi gardenia (dan selalu beli lilin ini di toko satu harga 5000).

Jadi, belum sampai wangi dasar keluar, saya sudah cuci tangan. Yang pasti, ga jadi beli.

Top Notes : melon, persik, teratai, kehijauan aroma tagette
Middle Notes : buket lily of the valley, gardenia, melati, violet pink, Florence-lily
Base Notes : musk, cendana, amber, madu
Date of creation : 2004, image taken from perfumeemporium.com

PS: Untuk sahabat saya, Zulfahmi, wherever you are... Parfum ini membuat saya ingat kamu waktu kita masih pergi kemana-mana di pulau kecil itu, terus saya ribut memaksa kamu,"Elo beli parfum duonk, Say. Yang murah aza." Dan kita end-up beli Iceberg-Twice for Men, yang wanginya manis dan berempah pedas. Akhirnya, parfum itu ga pernah kamu pakai, dan bolak-balik kamu misuh-misuh,"Wanginya sih Ok. Tapi gw bersin terus setiap kali semprot."

Seandainya rencana kita membuka toko parfum bareng itu kita jalankan ya, Fa, pasti sekarang sudah besar dan buka cabang :-) Sorry for not listening to you...

Satu lagi: gw seneng bgds elo sekarang dah punya istri jadi rumah elo lebih teratur. Dari dulu gw ga berani bilang, gw sebel bgds sama lilin gardenia elo itu ya, catet. Apalagi kalo dinyalakan di depan kipas angin...

Wednesday, January 28, 2009

Perfume Review: Inferno Paradiso Blue for Men by Benetton

Hmm...
Susah juga ya melukiskan Benetton yang ini. Aroma atas-nya segar dan 'hijau', tapi aroma tengah dan dasarnya..hmmm...susah! Segar, tapi tidak spesial, tapi segar sih memang. Apalagi untuk sehari-hari kalau sedang berjalan kaki di udara yang panas dan berdebu. Lebih lucu lagi kalau dipakai sehabis mandi setelah berolahraga di gym. Yummy :-p
Hmm...

*masih bingung melukiskannya. Ah, aku give up, ah...

Notes : bergamot, cendana, amber, dan melati
Image : perfumeemporium.com

Monday, January 26, 2009

Perfume Review: Le Male by Jean Paul Gaultier

Saya mendapat miniatur parfum ini di Singapura, saat membeli JPG Classique - EDP. Parfum inilah yang membuka jendela ‘pemahaman baru’ bahwa tidak semua parfum pria berbau...pria, dalam arti wangi tembakau, kulit, tanah atau kayu.

Wangi atas-nya hangat dan ‘pedas’ dan segar menyentak, paduan dari asamnya bergamot dan tajamnya lavender (yah, chemistry saya memang selalu ciong dengan lavender). Tapi hanya sebentar, wangi kayu manis dan jintan yang hangat segera keluar. Mungkin ada wangi segar dari orange blossom tapi saya tidak terlalu memperhatikan karena tenggelam dalam seksinya wangi tengah ini. Bahkan saat wangi dasar muncul, yaitu campuran kayu ditambah vanila, wangi tengah ini ikut bercampur.

Terus terang, ini parfum yang genderless dengan tetap menghasilkan impresi yang berbeda bila dipakai pada pria atau perempuan. Bila dipakai perempuan, terutama saya :-), parfum ini membuat saya merasa lebih kuat, lebih punya ‘power’. Wangi vanila, kayu manis dan cendana dalam porsi yang tepat memberikan nuansa baru bagi wewangian perempuan.

Sebaliknya, saya rasa tidak semua pria bisa memakai parfum seperti ini, karena kuatnya wangi vanila membuatnya sedikit flamboyan. Saya tidak bisa membayangkan bahwa parfum seperti ini akan dipakai oleh pekerja minyak lepas pantai, pekerja lapangan, atau pria aktif pecinta olah raga, atau bahkan executive director institusi keuangan. Yang selalu saya bayangkan, pemakai parfum ini pastilah pria eksekutif muda, berumur 30-35 tahun, lajang, sering melakukan business deal di luar ruangan, sesekali menunggangi Ducati atau big HD, pecinta seni, anggur dan fesyen, pulang-pergi naik Beemer, kaya dan sensual. Pokoknya, tipikal pria yang membuat perempuan merasa dia pantas diperebutkan, atau direbut dari perempuan lain, atau istilah apa sajalah yang intinya adalah ‘pria yang meluluh-lantakkan akal sehat wanita’. Cieee...

Hmmm, impresi saya salah.

Sudah dua kali saya bekerja bersama 2 orang pria (keduanya mantan bos saya tepatnya) yang memakai wewangian ini :
1. Ex-Boss Pertama : naik sedan silver yang biasa bangeds, selera fesyen standar, tidak suka motor, punya anak dua & istri, sehingga jelas, bagi saya beliau tidak sensual sama sekali.
2. Ex-Boss Kedua : naik SUV atau Mercy, pecinta anggur & kulinari & musik klasik, selera fesyen yang baik (dan bermerek), suka golf, punya rumah dua dan (lagi-lagi) anak dua juga, plus istri yang (katanya) galak. Dan yang pasti usianya jauuuuh di atas 35 tahun, dan...nggggg.... rambutnya agak mulai menipis..... (but, truly, it is not a problem, look at that sexy Sean Connery!).

Terlepas dari kedua boss itu, saya masih berharap ada pria lajang dan available yang memakai parfum ini.

-sabar menanti dot com

Top note : Mint, Lavender, Bergamot
Middle note : Kayu Manis, Jintan, Orange Blossom
Base note : Vanili, Biji Tonka, Kayu Cendana, Kayu Cedar

Date of Creation : 1995 Oriental – Fougere
-picture was taken from Osmoz.com as I have lost my bottle-

Saturday, January 24, 2009

Perfume Review: Beyond Paradise by Estee Lauuder

Dengan harapan tinggi atas parfum ini, saya menyemprot banyak-banyak di konter parfum. Harapan saya adalah wangi bebungaan yang bervariasi.

Ternyata, yang tercium di tubuh saya hanya wangi melati sambac yang bening dan kuat. Jadi teringat melati yang besar-besar yang dipakaikan di rambut kakak saya waktu menikah dulu.

I hate jasmine. Tapi, semua pria yang saya tanya,"Sukakah kamu akan melati, whaddayathink?" Semuanya kompak menjawab bahwa melati is so sexy, so arousing! Duh, mendadak hal ini menjadi dilema buat saya, dibeli tidak ya.

Baiklah, saya tidak jadi membelinya.

------------------------------------------------------------------------------------------

Top Notes : Eden's Mist, Blue Hyacinth, Orange Flower Templar, Jabuticaba Fruit.
Middle Notes: Laelia Orchid, Crepe Jasmin, Mahonia Japonica, Pink Honeysuckle.
Base Notes: Natal Plum Blossoms, Ambrette Seed, Zebrano Wood, Golden Melaleuca Bark
Image : from perfumeemporium.com

Wednesday, January 21, 2009

Perfume Review: Green Tea Lotus by Elizabeth Arden

Dalam kebudayaan Asia, lotus dianggap sebagai bunga yang sakral. Kehadirannya melambangkan kesempurnaan: kecantikan (mekarnya kelopak lotus) di permukaan, kekuatan (jejak akar lotus) di dalam (air). Tambahan lagi, aroma bunga ini selalu memberikan ketenangan jiwa. Semua itu menyebabkan para pabrikan parfum – yang saat ini terkena demam Asia (Jepang, Cina, Thailand) - berlomba-lomba merilis parfum beraroma lotus saat ini.

Walaupun Green Tea orisinal masih terhitung sebagai salah satu parfum terlaris di Indonesia, Elizabeth Arden sudah mengeluarkan varian baru setiap tahun. Mulai dari Spiced Green Tea, Green Tea Summer, Iced Green Tea, Green Tea Revitalized, dan sekarang “Green Tea Lotus”. Semuanya memiliki satu bahan yang sama yaitu wangi teh hijau yang sangat lembut hingga kadang wangi teh hijaunya tidak tercium di beberapa varian.

Di toko parfum langganan, saya menyemprotkan Green Tea Lotus dan langsung bergumam,”Aw, wangi lemon yuzu yang ringan dan segar!” Sebenarnya bukan sesuatu yang baru, sih, karena Hermes sudah pernah mengeluarkan Un Jardin sur Le Nil dengan wangi lemon yang sama. Tetapi, yang mengesankan adalah kemampuan Green Tea Lotus untuk membagi aromanya ke dalam layer yang berbeda. Misalnya, saat aroma yuzu perlahan menghilang, wangi teh menyeruak perlahan hingga saya menginginkan lebih lagi. Lalu, wangi lotus-nya datang, sebegitu anggun hingga saya sempat terdiam. Perlahan, ia mundur dengan segala kemuliaannya. Dan, lily merompak maju ke depan. Otomatis, komposisi lili ini mengingatkan saya pada Tommy Hilfiger – Dreaming.

Saya menunggu tetapi wangi musk dan birch tidak pernah muncul. Syukurlah! Saya juga tidak ingin wangi musim semi seperti Green Tea Lotus ini diganggu wangi kayu birch atau malahan wangi hewan seperti musk. Rasanya tentu akan merusak impresi keseluruhan parfum ini.

Green Tea Lotus adalah parfum yang sesuai untuk digunakan di musim semi atau musim panas. Mendadak, saya membayangkan membaca buku di bawah pohon rimbun (minus ulat bulu), di pinggir sungai berair deras sambil menikmati sinar mentari, dengan angin bertiup semilir. Atau, membayangkan saya memakai bikini dan berdiri di haluan yacht berwarna putih yang meluncur membelah air laut.
Sebenarnya pun, memakai parfum ini sambil mengejar layangan di lapangan bola juga oke.

Saya tidak yakin apakah parfum ini sesuai dengan jiwa musim gugur yang akan datang. Tetapi, tentu saya akan membeli sebotol besar untuk mencerahkan hati di pagi yang berawan.


Top Notes : plum, kelopak sakura, yuzu
Middle Notes : lily, lotus, teh, osmanthus
Base Notes : musk, white birch
Date of Creation : 2008
Image : taken from Fragrantica.com

Monday, January 19, 2009

Perfume Review: L'eau par Kenzo pour homme

“Lemon! Jeruk nipis! Ouch, wanginya tajam sekali!” begitulah yang saya rasakan ketika pertama kali parfum ini diteteskan ke pergelangan tangan. Saya sempat berteriak-teriak karena mata saya otomatis berair. Rasanya kok seperti mengiris jeruk nipis dan menjilat kecut potongan-nya. Uh!

Anehnya, perlahan ketika wangi tengah L’eau par Kenzo menyeruak keluar, saya merasakan ketenangan. Walaupun, terus terang, aromanya biasa saja : hanya wangi lotus dan sedikit wangi mint bercampur dengan tajamnya wangi jeruk nipis tersebut. Btw, wangi mint yang aquatic itu seperti apa siy? Klo wangi mint, saya tau. Wangi laut siy juga saya tau, pokoknya bau ikan deh :-))

Di tubuh saya, wangi dasar dari musk dan Green Pepper tidak pernah muncul. Syukurlah! Green pepper itu semacam cabai paprika gendut berwarna hijau, yang suka dipakai sebagai topping pizza di Pizza Hut. Wanginya? Ya seperti paprika hijau gendut itu, coba saja makan & endus sendiri, xixixixi…

Secara keseluruhan, saya menggolongkan parfum ini sebagai jenis yang dapat dipakai oleh pria dan wanita. Pria dan wanita dapat memakainya dalam kegiatan luar ruangan. Tetapi jangan harap dapat digunakan untuk menarik perhatian lawan jenis. Yang ada, malah bersin-bersin.

Top Notes : Yuzu (semacam jeruk nipis Jepang), daun Ho
Middle Notes : daun lotus, aquatic mint
Base Notes : green pepper, white musk
Date of Creation : 1999, botol di-desain ulang di 2003
Image : diambil dari perfumeemporium.com

Saturday, January 17, 2009

Perfume Review: Dreaming by Tommy Hilfiger

Got a chance to smell Dreaming when it first launched at Grand Indonesia. A friend of mine lazily said,"Nothing new. It smells like Estee Lauder-Pleasure. So, what I must dream of when wearing this?"

I admit, I agree with her.

Dreaming is just another summer/spring fragrance that boasts a scent of clean-sparkling-freesia that does not develop into any other notes. Heated under bright sunlight, surely it will emanates nice-scented-heat. But, freesia! Oh, my! So many fragrance in the market smells like freesia. Is there any bit of creativity shown during the making of the perfume, puhleesss...

However, I like the ad. Do you?

--------------------------------------------------
Notes: Peach, Freesia, Tuberose, White Hibiscus, White Woods, Orris.
Date of Creation : 2008
Image : taken from www.dreamingaboutyou.com

Thursday, January 15, 2009

Perfume Review: CKin2U by Calvin Klein

Review ini ditulis untuk fasity.com, dan sudah diterjemahkan.
-------------------------------------
Memiliki teman pria yang suka parfum beraroma vanilla (hmm, sebenarnya dia lebih suka kue bolu vanila, siy), saya merasa memiliki perfume-mate (a.k.a soulmate in perfume). Saya cinta vanila, yang banyak dan melimpah ruah! Dan, hari ini saya sibuk mencari parfum beraroma vanila. Dasar jodoh! Ketemu! Di toko langganan saya, ada ckIN2U. Dengan percaya diri, plus sedikit rayuan gombal bahwa saya mungkin membeli parfum itu, saya meminta si Mbak penjual untuk menyemprotkannya ke pergelangan tangan.

Semprotan pertama menampilkan wangi sitrus yang merupakan campuran dari grapefruit, bergamot dan dedaunan red currant. Sebenarnya saya belum pernah tahu wangi dedaunan red currant seperti apa, tetapi saya yakin deh ada wangi daun di situ.

Wanginya segar, tetapi biasa bangeds, seperti wewangian beraroma bunga-buah yang sekarang merajalela di pasaran (dipelopori oleh Paris Hilton yang terkenal ituh).

Ketika wangi atasnya raib, timbul manisnya gula. Bila dilihat dari komposisi parfum ini, seharusnya ada wangi kaktus, tapi mana ada siy kaktus yang wangi. Minimal, kaktus di kebun ibu saya tidak ada wanginya sama sekali. Atau, mungkin saya yang berada kurang dekat dengan para kaktus ituh. Ga tau juga deh, yang pasti siapa juga yang mau berada dekat kaktus. Salah-salah malah kena durinya.

Di titik itu, saya memutuskan tidak membelinya. Ternyata, setelah beranjak jauh dari toko tersebut, timbul wangi kayu yang lembut bercampur wangi kesturi dan vanila dan samar masih tercium wangi gula. Wanginya seksi? Tentu tidak, lebih tepat bila dikatakan: lezat! Wangi yang mencerminkan kegemaran teman pria saya akan kue bolu vanila yang baru diangkat dari oven.

Tiba-tiba saya menyesal mengapa menuruti perasaan saya untuk tidak membeli parfum ini.

Tapi, saya juga menyesal mengapa parfum indah ini bernama aneh, seperti sms yang suka diluncurkan oleh teman pria saya itu: menuliskan nama "u" sebagai pengganti kata "kamu".

Walaupun begitu, saya mengakui bahwa parfum ini tidak istimewa dan mirip dengan wewangian lain di pasar parfum yang sudah sangat jenuh dengan produk serupa. Oleh karena itu, saya rasa dia tidak pernah akan menjadi legenda. Mengingat hal ini, saya mendadak jadi tidak menyesal karena tidak membeli parfum ini. Lumayan, bisa hemat, dikiiitt...
-----------------------------------------------------------------------------------------

Top Notes : Pink Grapefruit, Bergamot
Middle Notes : Red Currant Leaves, Sugar Orchid, White Cactus
Base Notes : Neon Amber, Red Cedar, Vanilla Soufflé
Date of Creation : 2007

Tuesday, January 13, 2009

Perfume Review: Inferno Paradiso by Benetton

Sebagai versi perempuan dari Inferno Paradiso Blue, Benetton mengeluarkan parfum ini. Harganya cukup murah: Rp 110,000 di toko diskon. Botolnya cantik dan ‘handy’.

Saya suka semprotan pertama, dengan wangi buah-buahan yang tajam namun segar. Sayangnya, setelah itu saya mencium wangi ketumbar yang kuat, masih bercampur dengan wangi lemon. Perpaduan yang aneh.

Wangi tengah dari bunga lili tidak pernah benar-benar dapat keluar, apalagi wangi dasarnya yaitu vanili dan kesturi.

Saya tidak suka parfum ini. Tetapi, saya yakin banyak yang suka. Buktinya, di toko tersebut, tiba-tiba datang gadis cantik yang langsung membelinya tanpa ba-bi-bu lagi. Hmm.

-----------------------------------------------------------------
Top Notes : red fruit accord
Middle Notes : cyclamen, bunga lili
Base Notes : vanili, kesturi
Date of Creation : 2005
Image taken from FragranceX.com

Sunday, January 11, 2009

Perfume Review: Agent Provocateur by Agent Provocateur

Agent Provocateur adalah toko lingerie yang bermula di Inggris. Oleh karena itu, pada tahun 2005, ketika mereka mengeluarkan wewangian dengan botol berbentuk telur terbuat dari porselen, saya gembira sekali. Begitu banyak toko yang telah saya masuki hanya agar mendapatkan kesempatan mencobanya. Tapi takut sama penjualnya, kayaknya semua berwajah jutek kalau tidak saya beli barangnya. Ternyata malah ketemu waktu pergi ke Mal Ambasador, di toko kecil Mon Cherie (Lantai 2, Blok B). Harga parfum ini Rp 700,000 untuk kemasan 100-ml.

Sebagai pendahuluan, silakan masuk ke website-nya www.agentprovocateur.com. Dapat kita temukan gambar sekumpulan wanita dan pria yang memberikan impresi bahwa terjadi pesta s*x di situ (maafkan bahasa saya). Hal ini mengingatkan tentang kebiasaan aneh seorang kaisar Roma bernama Caligula (difilmkan dengan judul sama). Entah apakah ini kaisar beneran atau khayalan sang pembuat film, tetapi kesenangannya yang menyimpang diceritakan dengan jelas di film tersebut.

Penuh imajinasi tersebut, saya mencoba semprotan pertama,”Hey, wangi mawar berempah yang kuat dan menggoda!” Mawar yang lembut, berpadu dengan hangatnya ketumbar, menciptakan kesan yang gelap, gothic, sedikit 'dirty'. Dan, dengan sukses membawa pikiran saya kemana-mana.

Sayangnya, walau sudah bolak-balik makan makanan India, saat mencium semprotan pertama ini, tetap saja saya lupa wangi rempah-rempah 'saffron' seperti apa. Wah, sebel.

Beberapa menit kemudian, wangi tengahnya keluar. Mawar berempah tersebut berubah menjadi lebih jernih, bergelembung, Magnolia dan melati bergandeng bersama mawar hingga wangi ketumbar tersebut hilang. Tetapi, apakah wangi mawar dapat dikategorikan seksi? Kok, setelah bertanya-tanya kepada teman-teman pria saya, rata-rata lebih suka melati. Bukan mawar. Yah, hilang sudah bayangan tentang 'kebiasaan' Yang Mulia Caligula.

Saya terus menunggu, hingga akhirnya wangi amber datang, diikuti oleh kesturi (musk). Oh, saya cinta wangi musk dan amber. Wangi mawar menjadi lebih berat, manis dan terasa seperti bedak. Sayangnya, bau akar-wangi tidak pernah muncul sehingga timbul kesan bahwa wangi dasar ini lebih cocok untuk gadis kecil, lengkap dengan boneka, rok renda-renda dan senyum polos. Padahal, seharusnya parfum ini ditujukan untuk wanita dewasa yang (siap) menggoda.

Pendeknya, parfum ini mengagumkan dan dapat dipakai untuk segala cuaca. Jika kalian pecinta mawar (seperti saya), disarankan untuk membeli. Tetapi, bila ingin menggoda pacar/suami, yah lebih baik beli yang lain sajalah. Kurang efektif.

--------------------------------------------------------------------
Top Notes : saffron, ketumbar
Middle Notes : mawar maroko, melati, magnolia, kenanga, gardenia putih
Base Notes : akar-wangi, amber, kesturi
Image : diambil dari agentprovocateur.com

Saturday, January 10, 2009

Perfume Review: Brit Sheer by Burberry


Pink-checkered-bottle is what I need at this very moment.

Pertama, saya tidak tahan memikirkan harus memakai item fesyen berupa dress tartan hitam/merah. Bukan karena tidak ingin terlihat trendy sesuai trend Fall 2008, tetapi rasanya tidak pantas untuk saya pakai. My body seriously rejected the image of me wearing a beautiful red-black/, bahkan kalaupun warnanya hitam/biru. Baiklah, Burberry Brit Sheer jadi pilihan yang masuk akal apalagi karena cuaca musim ini sangat mendukung. Matahari bersinar tetapi udara tetap terasa sejuk. Memakai Brit Sheer rasanya pas!

Senang sekali ketika semprotan pertama tercium. Jeruk Mandarin, Lemon Yuzu, terasa segar dan muda. Sayangnya, setelah itu terhirup wangi buah nanas dan leci; ini siy penyiksaan. Lagi-lagi, aroma yang tidak original dan banyak digunakan oleh parfum lain. Mbok ya, para perfumers/noses itu kreatif sedikit, kan masih ada buah belimbing, jamblang, atau duku yang bisa dibuat sintetis-nya (duh, sok teu bgds siy ikke, xixixi).

Habis gimana duonk, wanginya mengingatkan pada Davidoff Cool Water, mana ga tahan lama lagi.

Ya sutra lah, Brit Sheer masih bisa digunakan pagi hari, atau pas sedang exercise di fitness center. Yang pasti, kurang OK untuk momen spesial, baik bersama teman tersayang atau temin tercinta.

However - I hate to admit this - I loooveee the stylish bottle.

Thursday, January 08, 2009

Perfume Review: Night of Fancy by Anna Sui


Terinspirasi dari review csakura di Fasity, akhirnya saya memutuskan untuk membeli parfum terbaru Anna Sui: Night of Fancy. Bentuk botol mini-nya cantik, walau tutup burung merak tersebut terlihat agak murahan. Bahkan, mulanya saya agak skeptis, terutama secara akhir-akhir ini botol parfum saya sudah mulai kebanyakan sehingga tidak mungkin rasanya parfum komersial (yang di-rilis untuk mass market) dapat memuaskan saya.

Pas dicoba mengoleskan satu tetes, kejutan! Rasanya, tahun ini Natal datang lebih cepat.

Night of Fancy lebih baik dari yang saya harapkan. Bagi teman-teman yang beruntung, mungkin aroma parfum ini terbentuk lebih baik, lengkap dengan layer pembuka hingga penutup. Tapi dengan chemistry saya yang aneh, semuanya bercampur baur menjadi satu. Aroma-nya hilang timbul tetapi tetap menawan.

Secara keseluruhan, parfum ini terpusat pada wangi powdery-berry yang timbul dari percampuran cashmeran dan blueberry. Ada juga wangi melati yang hijau, sparkling, dan mampu membingkai sehingga parfum ini tidak terlalu manis. Dan, ah, bunga stephanotis yang cantik itu memberikan suatu touch-up yang menggoda.

Tentu, saya mengharapkan wangi insens dari olibanum datang. Sayang, hingga saat-saat terakhir, lho kok dia berhalangan :-)

Kesan saya atas Night of Fancy? Seperti menggosok-gosokkan hidung pada sweater cardigan yang bertekstur lembut. Cantik untuk musim panas, sempurna untuk musim hujan.

Ya sudahlah, silakan mencoba sendiri di mal. Dan, seperti saya, pasti kamu juga berharap bahwa Natal (dan hadiah-hadiah-nya) datang sekarang juga.

-----------------------------------------------------------------
Top Notes : blueberry, grapefruit leaves, strawberry
Middle Notes : stephanotis, jasmine
Base Notes : milshake accord, cashmeran, olibanum
Date of Creation : 2008
image taken from Night of Fancy website

Monday, January 05, 2009

Perfume Review: Forever by Alfred Sung

Wewangian ini diluncurkan pada tahun 1995 oleh Alfred Sung, bekerja sama dengan 'nose' Dragoco. Pada tahun 1998, teman kuliah saya memberikan miniatur parfum ini sebagai oleh-oleh. Mungkin juga dia sudah tahu, daripada menghadapi sekumpulan perempuan bawel (yang notabene hanya 10% dari populasi angkatan kami yang pria semua), ya lebih baik memberikan sedikit hadiah :-)

Saya ingat betapa tersentuhnya hati saya melihat kotaknya, yang diselimuti warna biru lembut. Botolnya elegan, simpel dan minimalis, sangat berbeda dengan wangi cairan parfum-nya yang poten, kuat, dan sangat manis.

Bahkan saat pertama kali menghirupnya, saya diserbu sejuta bunga. Wangi buah plum dan berry yang seharusnya membuka parfum ini hanya bertahan beberapa detik. Walaupun peoni bertugas membangun aroma pertengahan sang parfum, tetapi bunga itu tak mampu bertahan. Lagipula apalah arti peoni, yang bila dicium sendirian pun hanya sedikit sekali wanginya (kadang malah wangi balsam :-)).

Kembali ke wangi tengah, ah, sungguh dominasi yang indah dan manis. Mawar dan lily of the valley, dikelilingi narcissus dan segarnya freesia. Entah kenapa, wanginya membuat hati saya bahagia. Rasanya seperti diberi buket bunga oleh seorang pria tampan, atau seperti mandi ribuan kelopak bunga di kolam air hangat. Atau, seperti berlari bebas menyongsong angin di padang rumput luas, dimana udara penuh buah kapuk yang pecah beterbangan.

Dan entah kenapa, wangi dasar yang penuh aroma kayu tidak pernah muncul di kulit saya.

Tepat seperti namanya, Forever, saya rasa parfum ini cocok untuk digunakan dalam event yang patut dikenang, misalnya pertunangan atau pesta pernikahan. Saat pakaian yang saya kenakan (seharusnya) indah, penuh ruffles, terbuat dari satin dan sutra cantik serta mengembang lembut. Minimal, seharusnya begitu.

Tapi, karena tahun 1998 itu penuh gejolak, saya memakainya bolak-balik saat demo reformasi. Entah saat menghadiri rapat, pergelaran (penuh orasi), saat menonton TV sambil deg-deg-an, atau bahkan saat turun ke jalan sambil berharap bertemu cowok-cowok cakep dari fakultas & universitas lain :-) Pakaian saya: tentu saja bukan rok satin atau sutra namun hanya jeans dan kemeja biasa.

Biar bagaimana pun, masa di tahun 1998 itu benar-benar teringat selamanya.
-----------------------------------------------------------
Top Notes: Mirabelle Plum, Tayberry, Pink Peony Buds
Middle Notes : Yellow Freesia, Paperwhite Narcisse, Damask Rose, Lily of the Valley
Base Notes : Yellow Bell Mahonia, Sandalwood and Amber.
Image : taken from Fragrantica.com

Saturday, January 03, 2009

Perfume Review: Mandarina Duck by Mandarina Duck

Siapa yang tak tahu Mandarina Duck, suatu merek desainer terkenal dari Italia yang memproduksi tas, koper, dan akesori bepergian. Didirikan pada tahun 1977 oleh Trento dan Manato, mereka memutuskan meluncurkan hape tahun kemarin! Tentu saja, ada kerja sama dengan Alcatel. Kita jangan berharap macam-macam bahwa perancang tas mendadak jadi memiliki pengetahuan teknis yang cukup untuk membuat hape.


Telepon selular tersebut tersedia dalam 3 warna, lho! Ada hitam, merah dan putih. Tapi cukup lah, silakan teman-teman membaca di sini bila ingin tahu lebih lanjut.

Yang ingin saya ceritakan sekarang adalah parfum pertama Mandarina Duck. DIluncurkan tahun 2005, wanginya sungguh merefleksikan sang merek: cerah, segar dan cocok untuk bepergian. Ah, saya tidak mengharapkan suatu parfum yang lain daripada yang lain, yang mungkin dapat membuat saya merasa (dan tercium) 'stylish' di perjalanan. Pula, saya tidak mencari yang canggih dan menguarkan aroma sensualitas. Atau, karena merek ini terkenal dengan inovasi-nya, apakah saya mesti mengharapkan kreasi yang 'nyeleneh'.

Sebenar-benarnya, yang saya harapkan hanya wewangian yang ceria! Serius, di udara lembab musim pancaroba begini, saya cuma ingin menjadi bebek kuning yang berenang dengan gembira di kolam sejuk, bersama teman-teman bebek, dalam sinar matahari yang terang.

Hmm, sejauh ini memang itu saja yang saya dapatkan :-)

Dibuka dengan ledakan freesia tercampur lemon, perlahan si Bebek cantik menjadi berempah karena sentuhan merica putih (atau coklat muda ya seharusnya). Sedetik kemudian, bergamot datang. Lucunya, biasanya saya sebal sekali dengan campuran seperti ini. Tentu saja, sebelum bertemu bebek satu ini!

Ah, rasanya segar sekali! Siap untuk berjalan di trotoar jalan penuh polusi sehabis makan di kedai dekat kantor.

Sesampai di kantor, saya terkejut menyadari teh melati muncul bergandengan tangan dengan bergamot. Sekarang, rasanya ajaib, seperti disiram seember teh Earl Grey dingin! Sangat menyenangkan!

Itu sebabnya, ketika aroma musk dan kayu cedar menyapa beberapa jam setelahnya, saya tidak peduli. Mereka terlalu lekat di kulit hingga orang lain tidak dapat mengendus. Dan, seorang perfum(N)ista sejati tidak dapat hidup tanpa pujian orang atas parfum yang dipakainya :-)

Akhirnya, saya undang kembali - berkali-kali - sang Earl Grey untuk bercengkerama, berkencan dan menghabiskan waktu. Hari ini dan besok, hingga tetes terakhir...

-------------------------------------------------------------------------------------------
Top Notes : freesia, lemon, bergamot, white pepper
Middle Notes : jasmine tea, honeysuckle, gardenia
Base Notes : cedar, musk, ambrette seeds
Picture : taken from FragranceX.com

PS: Saya tidak tahu di mana mencari parfum ini di Indonesia. Kebetulan menemukan di Kaskus (Bro Andy).

Friday, January 02, 2009

Perfume Review: Tribu by Benetton

Diluncurkan pada tahun 1993, Tribu telah menjadi salah satu wewangian yang terkenal di Indonesia. Harganya yang murah, membuat beberapa orang menjadi fans berat-nya.

Saya sempat menyemprot sana-sini tadi pagi dan menemukan bahwa wangi bunga Tribu sangat cocok untuk segala cuaca, baik saat musim panas atau musim hujan. Wanginya sedikit mencolok hidung dan agak kuat.

Tribu dibuka dengan campuran melati dan kenanga. Bunga ini cukup terkenal di Indonesia dan dapat ditemukan dimana-mana dengan bau yang juga familiar. Dalam Tribu, kedua bunga tersebut menciptakan lingkaran aura yang lembut di sekeliling saya. Yah, sebenarnya bukan jenis parfum yang sedemikian lembut hingga seperti kulit kedua, sih. Malahan, Tribu ini kuat, penuh dengan segala kesegaran kebun bunga tropis. Geranium - tajam, menggigit - menemani kesegaran tersebut.

Wangi yang indah dan cocok untuk wanita di segala usia.

Setelah bebungaan tersebut, sepotong wangi musk muncul. Lumayan berat, namun sensual. Wangi musk yang berasal dari musang civet, bukan yang berasal dari tumbuhan. Dan, bertahan sangat lama di kulit saya.

Kali ini, Benetton cukup berhasil. Dan, saya serta merta membayangkan memakai parfum ini saat belanja di mal, misalnya FX Center, dengan cara yang tentu, stylish!

For review in English, please see here

-------------------------------------------------------------------------------
Top Notes : jasmine, ylang-ylang, geranium
Middle Notes : Haiti vetiver, musk
Base Notes : sandalwood, cedar
image was taken from www.benetton.com

Thursday, January 01, 2009

Perfume Review: Visions Casual Cuties by Oriflame


Parfum ini..hmmm..okay.. Jujur, wanginya mirip sekali dengan Estee Lauder-Pleasure, walaupun ga mirip-mirip amat siy. Sewaktu kakak saya yang penggemar berat Oriflame - menyemprotkan parfum ini di tangan, halah,lumayan juga ya ada parfum murah dengan wangi mahal.

Setelah itu, muncul wangi apel yang sayup, yang langsung dikejar oleh wangi water lily. Nah, pikir saya, ini dia yang membuat mirip dengan Estee Lauder-Pleasure. Dan, wangi ini bertahan selama 2 jam (demi akurasi, saya sampai bela-belain pasang timer).

Secara keseluruhan, kesan yang ditampilkan adalah kesegaran yang crisp dan sparkling, seperti menikmati mandi air sulingan bunga. Wewangian yang dapat dipakai kapan saja dan kemana saja. Bentuk botolnya juga ramping, sehingga dapat dipergunakan sewaktu-waktu bila ingin memperbaharui derajat wanginya tubuh (dan, percaya deh, pasti akan sering semprot-semprot kalau mau tetap wangi).

Sebagai bagian dari tema 'Vision V Collection', Casual Cuties memiliki dua teman (Miss Punk dan Lady Vintage) yang dapat dipakai hingga terbentuk 7 kombinasi wangi, dengan hasil akhir floriental-fruity (buah,bunga,amber) sebagai kombinasi ketiganya. Terus terang, konsep ini bukan model baru, karena saya ingat sekali The Body Shop pernah melansir konsep 'design your own scent' beberapa tahun lalu. Bahkan tanpa itu semua, saya yakin, para pecinta wewangian sudah sibuk sendiri mencampur beberapa parfum yang disukai, agar tercipta wewangian yang personal.

Top Notes : apel hijau
Middle Notes : cyclamen, teratai
Base Notes : musk
Date of Creation : 2008 - Fruity Floral